Mengenal Tradisi Tahlilan di Masyarakat Nahdliyin
Tahlilan bukan sekadar rutinitas keagamaan; bagi masyarakat Nahdliyin (sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama), ini adalah nafas budaya yang menyatukan doa, spiritualitas, dan solidaritas sosial. Tradisi ini telah menjadi identitas yang melekat erat dalam kehidupan Muslim di Nusantara, khususnya di wilayah pedesaan dan komunitas santri.
1. Apa Itu Tahlilan?
Secara etimologi, Tahlilan berasal dari kata bahasa Arab Hallala-Yuhallilu-Tahlilan, yang merujuk pada pembacaan kalimat tauhid: Laa Ilaaha Illallaah (Tiada Tuhan selain Allah).
Dalam praktiknya, tahlilan adalah serangkaian upacara pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an (terutama Surat Yasin), zikir, salawat, dan doa-doa tertentu yang dihadiahkan untuk orang yang telah meninggal dunia. Bagi masyarakat Nahdliyin, ini adalah bentuk nyata dari birrul walidain (berbakti kepada orang tua) atau penghormatan terakhir kepada sesama Muslim yang telah berpulang.
2. Sejarah dan Akulturasi Budaya
Tradisi ini merupakan warisan dakwah Wali Songo di tanah Jawa. Para wali menggunakan pendekatan kultural dalam menyebarkan Islam. Sebelum Islam datang, masyarakat setempat memiliki tradisi berkumpul saat ada kematian.
Alih-alih menghapus tradisi berkumpul tersebut secara ekstrem, para wali melakukan Islamisasi:
- Dahulu: Ritual berkumpul mungkin diisi dengan hal-hal yang tidak sesuai syariat.
- Sekarang: Diubah isinya dengan kalimat thayyibah, pembacaan Al-Qur'an, dan sedekah makanan.
Inilah yang disebut sebagai pribumisasi Islam, di mana nilai-nilai agama meresap ke dalam budaya lokal tanpa menghilangkan esensi tauhid.
3. Momentum Pelaksanaan
Masyarakat Nahdliyin biasanya menyelenggarakan tahlilan pada waktu-waktu tertentu yang dianggap sebagai fase penting bagi arwah maupun keluarga yang ditinggalkan:
Tradisi ini merupakan warisan dakwah Wali Songo di tanah Jawa. Para wali menggunakan pendekatan kultural dalam menyebarkan Islam. Sebelum Islam datang, masyarakat setempat memiliki tradisi berkumpul saat ada kematian.
Momentum | Waktu Pelaksanaan | Makna |
|---|---|---|
Malam ke-1 s/d 7 | Berturut-turut setelah pemakaman | Menemani keluarga duka dan mendoakan arwah di masa transisi. |
Hari ke-40 | 40 Hari Kematian | Mengingat fase penting perjalanan ruh |
Hari ke-100 | 100 Hari Kematian | Pengingat bahwa kesedihan mulai mereda namun doa tetap mengalir |
Mendhak Pisan/Pindo | 1 atau 2 Tahun Kematian | Peringatan tahunan (Haul Kecil) |
Nyewu | 1000 hari kematian | Puncak peringatan besar untuk mendoakan almarhum |
4. Struktur Bacaan Tahlil
Secara umum, susunan bacaan dalam majelis tahlil terdiri dari:
- Illa Hadratin Nabi (Tawasul): Mengirimkan Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, ulama, dan khususnya almarhum yang didoakan.
- Surat Yasin: Dianggap sebagai jantung Al-Qur'an yang memberikan ketenangan.
- Kalimat Thayyibah: Pembacaan Tasbih, Tahmid, Takbir, dan puncaknya adalah Tahlil (Laa Ilaaha Illallaah).
- Doa Penutup: Memohon ampunan bagi si mayit dan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan.
5. Dimensi Sosial dan Spiritual
Tahlilan memiliki fungsi yang melampaui sekadar ritual doa:
A. Solidaritas Sosial (Guyub)
Tahlilan adalah momen di mana tetangga dan kerabat berkumpul. Tanpa perlu undangan formal yang rumit, masyarakat akan datang untuk "ngayubagyo" atau menghibur keluarga yang berduka. Ini memperkuat kohesi sosial di tingkat akar rumput.
B. Sedekah dan "Berkat"
Seringkali tuan rumah menyediakan jamuan makanan atau bingkisan yang dibawa pulang (berkat). Dalam pandangan Nahdliyin, ini adalah bentuk sedekah yang pahalanya diniatkan untuk orang yang meninggal. Namun, ditekankan bahwa hal ini tidak boleh memberatkan keluarga yang tidak mampu.
C. Edukasi Kematian
Bagi mereka yang hadir, tahlilan adalah pengingat yang paling efektif bahwa kematian bersifat pasti. Mendengar kalimat-kalimat suci dan doa-doa kematian secara kolektif melembutkan hati dan meningkatkan keimanan.
Kesimpulan
Tahlilan adalah potret harmonis antara agama dan budaya di Indonesia. Ia adalah jembatan penghubung antara dunia dan barzakh melalui doa, sekaligus pengikat silaturahmi antar manusia. Bagi warga Nahdliyin, menjaga tradisi tahlilan berarti menjaga warisan luhur para ulama terdahulu dalam membumikan Islam di Nusantara.