opini

Filosofi Isim Manqush (Bait Alfiyah): Menemukan Harmoni Organisasi dan Pentingnya Peran Ranting NU

person Kiyai. Sarohman Asymuni calendar_today 05 February 2026 visibility 32 views
Bagikan:

Salah satu konsep tatanan bahasa arab adalah i'rob yaitu perubahan harokat akhir berdasarkan gramatikalnya. Bait tersebut menjelaskan isim manqus yaitu isim mu'rab yang berakhiran  ya' lazimah (tetap) & huruf sebelumnya berharokat kasroh. Contohnya Al Qadhi (hakim), Al Muhamy (pengacara), Al Murabby (pendidik), Ar Ro'iy (pemimpin), Ad Da'iy (pendakwah), Al Waly (wali) dst.

Karakteristik isim manqus jika ditambah alif lam (ma'rifat) maka huruf ya tetap ada tetapi harokat rofa atau jar disembunyikan (muqoddaroh) sedangkan jika tidak ditambah alif lam (nakiroh) maka huruf ya dan harokat domah atau kasroh diganti tanwin dalam kondisi rofa atau jar. Huruf ya tetap ada pada saat nashob baik ditambah alif lam atau tidak begitu juga harokat fathah tetap eksis.

Ada apa dengan nashob sehingga tidak membuang huruf ya & harokat fathah isim manqus?. Nyooo kita bahas secara seksama.

Tanda nashob dalam bahasa arab menunjukkan bahwa kalimat tersebut berfungsi sebagai objek langsung, objek tidak langsung, atau pelengkap kalimat. Mengartikan sebuah kata dapat keliru pada saat tidak faham tanda nashob. Tanda nashob membantu menyampaikan pesan dengan jelas, hikmahnya dalam kehidupan (khususnya berorganisasi) adalah setiap struktural memiliki karakter & fungsi berbeda² maka memahami & menghargainya akan membawa keharmonisan & keberhasilan tujuan bersama meskipun perannya kecil.

Berorganisasi harus punya visi misi sekalipun kadang dalam pelaksanaannya nggak berjalan semestinya, maka untuk tetap bertahan harus beradaptasi & fleksibel dalam berbagai situasi. Tanda nashob menyesuaikan diri dengan amil yg mempengaruhinya begitu juga pengurus NU harus menyesuaikan dengan dinamika kehidupan masyarakat jika tetap bertahan dengan rofa atau jar siap² dibuang & diganti tanwin.

Hirarki organisasi jangan dijadiin alat menekan struktur di bawahnya, perlu dipertanyakan kelulusannya dalam pelatihan ke-NU-an jika belum ngerti bahwa ranting & anak ranting adalah struktur paling bawah di NU (akar rumput). Sebagai struktur paling bawah, tentu Ranting & Ranting merupakan struktur khusus (khos). Sedangkan semua struktur di atasnya merupakan struktur yang lebih umum (ammah).

Sebaiknya pengurus di atasnya pernah menjadi pengurus ranting/anak ranting supaya faham bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Ada Qaidah Fiqh:

الولاية الخاصة اقوى من الولاية العامة

Kekuasaaan dalam wilayah tertentu (khos) lebih kuat daripada kekuasaan dalam wilayah yang lebih luas (umum).

Bangunan struktur Ranting dan Anak Ranting menjadi penopang utama NU. Jika topangan utamanya runtuh, maka NU bisa goyah karena Ranting dan Anak Ranting jantung organisasi.

Pengurus NU seyogyanya seperti isim manqus yg mu'rob artinya mengikuti dinamika jangan kaku seperti isim maqsur -bisa ancur-.  Lebih penting lagi harus tegak lurus (merumput berbaur dengan masyarakat) seperti kondisi nashob sehingga tetap eksis tidak hilang ditelan zaman sebaliknya jika pengurus NU selalu dalam kondisi rofa (senioritas) atau jar (junioritas) tidak menutup kemungkinan NU tinggal kenangan atau ada tapi pasif artinya keberadaannya tidak bermanfaat untuk masyarakat.

Salam Khidmah kepada NU

#Sarohman (PRNU Baktijaya)